Anak Meninggal dalam Sel Tahanan Polres, Ibu Tuntut Keadilan

oleh

CIREBON, (JCO) – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lembaga Pengawasan dan Kebijakan Pemerintah (LP-KPK) Jawa Barat menerima pengaduan dugaan pelanggaran hak azasi manusia (HAM) yang dilakukan penyidik Polres Cirebon yang mengakibatkan meninggalnya seorang tahanan polisi bernama Arif Rahman Yulianto (19 tahun), warga Desa Ciawi Kecamatan Palimanan Cirebon, pekan lalu.

Orang tua Arif Rahman, Yuli (41 tahun) yang tercatat sebagai warga Jalan Suratno Kelurahan Kebonbaru Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon mengaku masih shock dengan dugaan penganiayaan yang dialami anak semata wayangnya hingga berujung kematian di dalam sel tahanan.

“Saya langsung lemas begitu ditelfon sama kakak saya kalau Arif ditangkap saat sedang menganyam rotan di rumah tetangga di Ciawi,” tutur Yuli menceritakan kronologi awal penangkapan anaknya.

Setelah malam mendapat kabar penangkapan anaknya, esok harinya dia mencari keberadaan anak kesayangannya. “Saya mencari anak saya di sejumlah Polsek dari mulai Polsek Palimanan (Gempol), Klangenan hingga Jamblang (Depok) tapi saya tidak menemukan anak saya,” ujar Yanti yang belakangan baru mengetahui Arif ditangkap anggota Satreskrim Polres Cirebon.

Yuli sendiri mengaku baru mengetahui informasi anaknya telah tiada pada malam harinya. Dia langsung jatuh pingsan begitu mengetahui kenyataan anaknya pergi untuk selama-lamanya. “Setelah seharian mencari tapi tidak menemukan keberadaan anak saya, saya pulang. Dan seperti disambar petir begitu malam harinya saya mendapat kabar anak saya sudah meninggal,” papar Yuli sambil sesekali menyeka air mata.

Sampai saat ini Yuli mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kematian Arif Rahman. Namun, apapun penyebabnya dia menuntut keadilan terhadap apa yang telah menimpa putranya tersebut.

“Saat ditangkap anak saya masih segar bugar dan sedang bekerja menganyam rotan di rumah tetangga. Tetapi kurang dari 2 kali 24 jam anak saya sudah jadi mayat,” kata Yuli yang mengakui banyak kejanggalan terkait penangkapan Arif.

Yuli mengaku pihak keluarga tidak pernah mendapat pemberitahuan terkait penangkapan dan penahanan Arif. Termasuk permohonan izin perlu dilakukan visum dan otopsi atau tidak. “Melalui LBH LP-KPK saya menuntut keadilan,” tegas wanita berstatus janda ini saat ditemui di Kantor LHB LP-KPK Jabar di Watubelah, Sumber.

Direktur LBH LP-KPK Jabar, Ibnu Saechu mengaku masih mengumpulkan informasi dan bukti-bukti terkait dugaan penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya tahanan Polres Cirebon tersebut.

“Terkait pengaduan tersebut kami akan melakukan investigasi dan mengumpulkan bukti-bukti. Kalau ada dugaan keterlibatan polisi kami akan mengadukan kasus ini ke Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Jabar. Atau bisa saja langsung ke Komnas HAM jika dianggap telah terjadi pelanggaran kemanusiaan yang berat,” ungkap Ibnu Saechu yang mengaku dalam waktu dekat akan membuat laporan resmi.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Cirebon, Ajun Komisaris Polisi Reza Arifian mengatakan kematian Arif Rahman diduga akibat dianiaya rekan sesama tahanan. “Kasus ini sedang kita tangani dan sejauh ini sudah ada sejumlah tersangka,” tandas Reza singkat. (Amar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *