Ditengah Hiruk-pikuk Pilwalkot Cirebon, Nasrudin Aziz Hadapi Persoalan Hukum

oleh

SUMBER, (JCO) – Ditengah hiruk-pikuk politik pasca pendaftaran bakal calon walikota Cirebon, Bakal Calon Walikota Cirebon yang juga petahana, Nasrudin Aziz harus berhadapan dengan persoalan hukum. Aziz digugat karena menjaminkan sertifikat hak milik atas tanah dan banguna milik warga Desa Kepompongan Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon. Kasusnya kini masih bergulir di Pengadilan Negeri Sumber.

Dalam persidangan di PN Sumber, Kamis (11/1/2018), majelis hakim yang menangani perkara dengan register No: 41/Pdt.G/2017/PN Sbr tersebut membacakan putusan sela terkait adanya eksepsi dari Nasrudin Aziz yang menyatakan Pengadilan Negeri Sumber tidak berwenang menangani persoalan tersebut. Namun majelis hakim menolak eksepsi Aziz dan memutuskan untuk tetap melanjutkan sidang gugatan perbuatan melawan hukum yang ditujukan sang walikota.

Selain menggugat Nasrudin Aziz, para penggugat yang berjumlah 4 orang kakak beradik yakni Candra Maharani, Mella Kartikasari, Muhamad Reza Putratama dan Faraz Nahdiyani juga menggugat Mela Triana yang merupakan istri sirih ayah para penggugat, Sutisno (Almarhum). Mereka juga menggugat seorang notaris dan PT. Bank Tabungan Negara (Bank BTN) Cabang Cirebon. Selain itu Kantor Badan Pertanahan Negara (BPN) kabupaten Cirebon juga turut digugat.

Berdasarkan surat gugatan, objek sengketa yakni sebidang tanah SHM Nomor 28/Desa Kepompongan Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon seluas 320 m2 merupakan milik orang tua para penggugat, yakni Sutisno (alm.) dan Aan Suryani (Alm.) yang dibeli dari Machmud, warga Kepompongan. Tanah tersebut dibeli oleh Sutisno ketika masih dalam perkawinan dengan Aan Suryani sehingga Penggugat merupakan hak waris yang sah. Aan Suryani sendiri meninggal pada tahun 2005, setahun kemudian Sutisno menikah dengan Mela Triana Sari (tergugat 2).

Akhir Oktober 2012 para pengguat mendapat informasi bahwa tanah bangunan peninggalan orang tua mereka sertifikatnya telah berpindah tangan dan dalam penguasaan PT Bank Tabungan Negara Kantor Cabang Cirebon (tergugat 4) sebagai jaminan hak tanggungan hutang atas nama Nasrudin Aziz.

“Para penggugat terkejut karena selama ini tidak pernah mengalihkan hak epemilikan tanah dan bangunan tersebut dengan cara apapun seperti menjual atau menjaminkan kepada siapa pun,” kata Kuasa Hukum para pengguat, Iskandar.

Dia mengatakan, kliennya pernah menanyakan kepada sutismo ayah kandung para penggugat ketika masih hidup dan Sutismo mengakui jika dirinya tidak pernah menjual tanah maupun bangunan tersebut kepada Nasrudin Aziz.Bahkan, sambung dia, harta peninggalan orang tua sampai saat ini masih ditempati para Penggugat.

“setelah ditelusuri diperoleh fakta bahwa sertifikat hak milik nomor 28/desa kepompongan telah dijaminkan oleh Saudara Aziz di Bank BTN untuk pinjaman uang sebesar Rp300 juta yang disetujui oleh Mela Triana Sari yang merupakan istri sirih Sutisno yang sama sekali memiliki hak sama sekali atas tanah dan bangunan tersebut,” jeas Iskandar.

Menurut dia, berdasarkan surat keterangan nomor : KK.10.12.20/Pw.01/191/2013tanggal 13 Juni 2013 yang dikeluarkan Kantor Urusan Agama (KUA) Sukra Indramayu menyatakan Kutipan Akta Nikah atas nama Sutisno dan Mela Triana Sari adalah Palsu.

“Dari hasil pinjamin tersebut seluruhnya diterima dan dinikmati oleh Pengugat 1. Sedangan para pengguat tidak pernah tahu kapan pencariannya dan penggunaan uang tersebut,” kata Iskandar.

Sementara itu, terkait gugatan tersebut, Kuasa Hukum Nasrudin Aziz, Sumarsono mengatakan meskipun tercatat debitur atas nama Pak Azis, tetapi fasilitas pinjaman tersebut diperuntukkan Sutisno (Alm.) Pinjaman tersebut seluruhnya ditempatkan pada rekening Sutisno (Alm) melalui metoda standing intruction.

“Pak Azis itu posisinya pihak yang dimintakan bantuan oleh Alm Sutisno agar secara formal mendapat kemudahan atas pinjaman yang dibutuhkan Alm Sutisno, sehingga beliau hanya dipinjam nama selaku debitur. Sehingga secara materiil konsensusnya pun yang membayari kewajiban angsuran pinjaman adalah Alm Sutisno tsb, bukan kewajiban Pak Azis,” tandas Sumarsono.(amar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *