Kain Tenun Cirebon, Riwayatmu Memudar

oleh

Mungkin banyak orang Cirebon yang bahkan tidak tahu, kalau di Cirebon masih terdapat pengrajin kain tenun. Hal ini bisa dimaklumi, karena masa jaya tenun Cirebon terjadi antara 1950-1980an.
Hampir di setiap rumah di Desa Pamijahan, Marikangen, Gombang, Lurah dan Desa Bodelor Kecamatan Plumbon serta di Desa Karangsari dan Desa Megu Cilik dan Megu Kecamatan Weru, seakan menjadi sentra tenun Cirebon, meskipun ada beberapa daerah lain yang juga banyak pengrajn tenun.
“Mungkin setiap sesuatu mengalami masa jenuh, begitu pula tenun Cirebon. Apalagi saat tahun 1980-an Cirebon mulai didirikan pabrik rotan, yang secara ekonomi jauh lebih menguntungkan bagi warga, jadi tenun Cirebon mulai redup,” kata Akim Garis, warga desa Karangsari.
Sutoyo, warga yang lain menceritakan hal yang sama. Kejayaan tenun Cirebon mulai redup saat itu. “Sekarang hanya beberapa tempat saja. Itu pun yang kita buat, adalah motif Palembang, karena pangsa pasar hasil tenun kita ada di sana,” ujar Sutoyo.
Tenun Cirebon atau dikenal dengan nama brongsong, juga diproduksi di Palembang, tetapi sebagian besar, pekerja tenun di sana, berasal dari Cirebon. “Lumayan, dari Karangsari, setiap bulan masih bisa mengirim 4-5 kodi kain sarung,” tambah Utoyo.
Selain sarung, hasil kain tetnun yang dihasilkan, berupa kain lap, kain sewed (kain untuk gendong), stagen, dan kain untuk baju. “Kalau bahan katun, satu sarung kita jual Rp. 110 ribu perpotong, sedangkan bahan sutera sutera bisa mencapai harga Rp.180 ribu perpotong.
Kain tenun tradisional Cirebon, kini hanya diambang kepunahan. Sekarang, para pekerjanya pun tidak lagi didapati yang berusia remaja. Lambat laun, kain tenun Cirebon, hanya tinggal cerita. (Nasha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *