Kasihan, Korban Terbakar Akibat Semburan Gas Pertamina Terlantar

oleh

Madsari (60 tahun) warga Desa Pagedangan Kecamatan Tukdana Indramayu masih tak berdaya dan terkulai lemah menahan sakit akibat luka bakar yang dideritanya setelah tersambar ledakan gas di rumahnya yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari lokasi pengeboran gas pertamina di desa setempat.

Madsari yang tinggal bersama ibunya Solehah (75 tahun) mengalami trauma yang mendalam akibat peristiwa kebakaran yang nyaris membakar keduanya. Mereka pun kini harus mengungsi karena rumah yang ditempati mengeluarkan semburan gas beracun dan sewaktu-waktu dapat meledak.

Madsari dan warga lainnya di sekitar pengeboran pertamina mengaku tidak dapat hidup dengan tenang setelah munculnya semburan gas di lingkungan pemukiman setelah ada eksploitasi dari pertamina. Pertamina sendiri selama ini dinilai kurang peduli dengan kondisi warga yang jelas-jelas terancam dengan munculnya ratusan ratusan titik semburan gas di lingkungan mereka.

Yang sangat menyakitkan bagi mereka, semburan gas yang muncul tidak diakui oleh pertamina akibat aktivitas pengeboran yang mereka lakukan.”Katanya semburan gas yang muncul tidak ada hubungannya dengan pengeboran yang dilakukan pertamina. Dan gas yang keluar di rumah-rumah warga katanya tidak berbahaya,” ujar Maryam, adik Madsari yang kini menampung sang kakak dan ibunya.

Dia menyadari ketidakpedulian pertamina mungkin karena dikarenakan dirinya hanyalah orang kecil yang tak bakalan mampu melawan perusahaan besar sekelas pertamina. “Ya memang seluruh biaya pengobatan ditanggung pihak pertamina. Kami dan warga lainnya juga dapat bantuan sembako,” ujar Maryam berkeluh kesah.

Akibat sambaran gas yang membakar kakaknya dan nyaris membakar rumah ibunya, Maryam mengaku ikut sakit-sakitan. “Saya kaget mas, jantung deg-degan terus dan nafas rasanya sesak. Pikiran gak tenang dan gak mau makan karena mikirin kakak dan orang tua saya,” kata Maryam yang rumahnya juga hanya berjarak sekitar 100 meter dari pengeboran pertamina.

Maryam mengaku tak bisa makan dan tidur karena selalu memikirkan bagaimana nasib kakak dan ibunya nanti. “Apakah mereka bisa kembali lagi ke rumah sana. Ibu saya nggak mau lagi tinggal di sana karena trauma. Kalau tidur di lantai katanya keluar gas dari lantai. Selain itu takut bau gas yang menyengat mengandung racun berbahaya,” terang Maryam yang tinggal di rumah sempit bersama tujuh anggota keluarga lainnya.

Dia pun berharap pertamina segera mengambil tindakan nyata atas bencana semburan gas yang kini menimpa warga Pagedangan dan sekitarnya. (amar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *