oleh

Miris, Bocah Korban Pembantaian Sekeluarga di Cirebon Butuh Uluran Tangan

Usianya belum genap 3 tahun, tetapi beban hidup yang ditanggung Guntur Gunawan, bocah asal Kelurahan Pasalakan Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon ini sungguh teramat sangat berat.

Di usianya yang masih sangat muda dia harus kehilangan orang-orang yang dicintainya. Sang ibu dan nenek meninggal secara tragis karena dibantai ayah kandung di depan mata kepalanya sendiri. Tidak hanya itu, dia dan kakak kandungnya yang berusia 7 tahun juga nyaris tewas akibat pembantaian yang dilakukan sang ayah secara membabi buta.

Enam luka robek akibat sayatan pisau di bagian dada dan perut dan satu luka akibat tusukan pisau membuat bocah Guntur hampir kehilangan nyawa. Sempat ditolak pihak rumah sakit karena tidak memiliki kartu jaminan kesehatan dan tidak bisa menyiapkan uang jaminan yang diminta pihak rumah sakit sebesar Rp6 juta, bocah dari keluarga tidak mampu ini akhirnya bisa lolos dari maut.

Namun, Guntur kini masih harus terus berjuang mempertahankan hidup karena luka fisik akibat kekerasan yang dilakukan orang tua kandungnya sendiri masih menggrogoti tubuhnya. Tidak hanya mengalami kekerasan fisik, Guntur juga diduga mengalami pukulan psikologis pasca pembantaian yang dilakukan sang ayah yang kabarnya dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan yang masih berjalan di Pengadilan Negeri Sumber Cirebon.

Guntur belum sembuh total akibat kekerasan fisik yang dideritanya. Bahkan, bekas luka akibat tusukan pisau ditubuhnya kini kambuh karena mengalami infeksi hingga mengganggu pernafasannya. Dari hasi pemeriksaan medis, Guntur harus segera dioperasi karena infeksi yang menyerang organ pernafasannya dapat membahayakan jiwanya.

Namun, Guntur harus kembali menghadapi tantangan karena pihak rumah sakit beberapa kali menunda rencana operasi yang sudah dijadwalkan. “Alasannya klasik, katanya kamar kosong,” ujar Nia, bibi korban kepada jurnalcirebon.com, Jumat (9/3/2018).

Dia menyayangkan pihak rumah sakit yang dinilainya kurang memperioritaskan pasien pengguna kartu BPJS. Padahal, kata dia, kondisi kesehatan keponakannya tersebut sudah semakin memprihatinkan. “Padahal sebelumnya kita sudah booking duluan. Tapi pas ada kamar kosong yang ngisi orang lain. Padahal, kata dokter keponakan saya harus segera dioperasi,” kata Nia.

Pada hal, kata dia, dari hari selasa Guntur sudah mulai puasa namun operasi belum juga di laksanakan bahkan sampai berita ini di tulis, pihak Rumah sakit belum bisa memastikan kapan Guntur bisa mendapatkan Kamar sehingga operasi bisa cepat dilaksanakan. “Kenapa sih, dedek nggak boleh makan?,” ujar Nia menirukan pertanyaan Guntur karena pihak rumah sakit yang tak juga kunjung melakukan operasi.

Karena belum juga mendapatkan kamar, dengan berat hati pihak keluarga membawa Guntur pulang. Dengan berlinang air mata segenap anggota keluarga pun hanya bisa berdoa Guntur kuat menghadapi cobaan berat yang dihadapinya. (Amar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed