oleh

MIRIS! Telat Ditangani Rumah Sakit karena tak ada Biaya Panjar, Bayi 4 Bulan Meninggal

JURNALCIREBON.COM – Tragis! Seorang bayi berusia 4 bulan dari keluarga tak mampu harus meregang nyawa karena diduga diterlantarkan salah satu rumah sakit swasta ternama di Kabupaten Cirebon.

Gilang Raditya, putra pasangan Abdul Rosyid (35) dan Masripah (29) ini akhirnya meninggal dunia setelah pihak rumah sakit menunda operasi yang sudah dijadwalkan pihak rumah sakit. Alasannya pihak keluarga pasien belum membayar deposit untuk biaya operasi sebesar Rp5,9 juta.

Informasi yang berhasil dihimpun, bayi asal Desa Guwa Kidul Kecamatan Kaliwedi Kabupaten Cirebon ini dilarikan ke RSUD Arjawinangun pada Kamis (19/1) pagi karena diduga ada masalah di bagian ususnya.

Pasien kemudian dirujuk ke RS Mitra Plumbon karena di RS Arjawinangun tidak ada fasilitas bedah anak. Sekitar pukul 11.00 Wib, pasien masuk ruang IGD, namun pihak rumah sakit tidak langsung melakukan tindakan medis karena pasien diharuskan membayar panjer terlebih dahulu yakni sebesar Rp1,5 juta.

“Dapat uang untuk bayar DP (panjer) sekitar pukul 04.00 Wib dan langsung saya setorkan ke kasir. Setelah itu baru anak saya ditangani,” ujar Abdul Rosyid, orang tua Bayi Gilang seperti dikutip mitradialog.com, Minggu (22/1).

Rosyid mengatakan, meski dia sudah menyampaikan memiliki kartu indonesia sehat (KIS) dan sedang mengurus BPJS untuk anaknya, pihak rumah sakit ngotot harus deposit terlebih dahulu bila bayinya ingin segera ditangani.

“Karena harus deposit dulu saya terpaksa cari pinjaman kesana-kemari. Pihak rumah sakit nggak mau tahu meski saya sudah bilang sedang mengurus kartu BPJS untuk anak saya,” kata Rosyid yang tercatat sebagai peserta bantuan iuran (PBI) BPJS.

Dia menjelaskan, setelah membayar biaya panjar, barulah bayinya mendapat infusan dan serangkaian tindakan medis termasuk harus menjalani operasi. “Saya dan istri saya pun menandatangani persetujuan untuk dilakukan operasi yang katanya dijadwalkan pukul 10 malam (pukul 22.00), Kamis (19/1),” jelas Rosyid.

Namun sekali lagi dia harus dibikin pusing. Pasalnya operasi hanya akan dilakukan jika dirinya sudah menyiapkan biaya panjar buat operasi sebesar Rp5,9 juta. “Nggak bisa nawar, pokoknya harus bayar panjar dulu,” kata dia.

Karena demi menyelamatkan putra semata wayangnya, dia pun mengerahkan segala daya-upaya untuk mendapatakan sejumlah uang yang diminta pihak rumah sakit. “Saya memohon-mohon kepada pihak rumah sakit agar dikasih waktu sampai pukul 9 malam (pukul 21.00) buat cari uang panjar buat operasi anak saya,” kata dia.

Namun alangkah kecewanya dia, setelah uang didapatkan dengan berbagai cara, keputusan pahit harus ia terima. Pihak rumah sakit seenaknya membatalkan operasi yang sudah dijadwalkan. Alasannya, dokter harus melakukan operasi di rumah sakit lain.

Keesokan harinya, kondisi bayi malang ini pun drop hingga akhirnya pada Jumat (20/1) sekitar pukul 08.45 si bayi meninggal dunia. “Saya menyayangkan pihak rumah sakit yang tidak mengutamakan keselamatan pasien,” ujar Rosyid penuh penyesalan. (sanuri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed