Mitos Watu Kilan di Keraton Kasepuhan

oleh

Cirebon Kota – Jika anda sedang berjalan-jalan di Keraton Kasepuhan, jangan anda lewatkan mencoba watu kilan. Konon, siapa yang mengukur dengan kilan (jengkal tangan) sama jumlahnya saat maju dan mundur, keinginannya akan tercapai. Benarkah?

Watu kilan, konon adalah salah dasar bangunan Keraton Pakungwati yang sudah runtuh. Batu ini berbentuk persegi panjang yang membujur ke kiblat. Konon batu ini juga pernah difungsikan sebagai sajadah oleh Sunan Gunung Jati. “Batu batu segi empat seperti papan banyak didapati di Keraton Kasepuhan dan Astana Gunung Jati. Di Astana Gunung Jati sebagai penutup makam kemudian diatasnya ditempatkan nisan. Makam Suuan Gunung Jati dan makam Sultan-sultan diantaranya memakai batu ini, jadi batu ini umurnya sudah ratusan tahun,” jelas Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, Sultan Sepuh ke-14 keraton Kasepuhan.

Sedangkan batu di Keraton Kasepuhan adalah bekas bagian dasar bangunan Keraton Pakungwati yg sudah runtuh. “Batu ini jadi pondasi tiang, pintu, tangga, dinding, dan lain-lain. Juga untuk hamparan tempat sholat dimana batu-batu ini melintang ke arah kiblat,” tambah Sultan.

Ada cerita lain dari batu yang berada di komplek Patilasan Dalem Agung Pakungwati ini. Dengan mengucapkan ayat-ayat tertentu dalam Alquran, lalu orang tersebut mengukur dengan kilan atau mengukur dengan jengkal tangan. Jika dia mengukur, sama ukurannya saat mengukur maju dan mundur. Maka keinginannya akan terkabul.

Ali Indra, pengunjung Kerton Kasepuhan, penasaran dengan mitos tersebut. Ali Indra, lalu mengukur dengan jengkal tangannya. “Beda jumlahnya saat mengukur maju dan mundur,” tutur Ali Indra.

Mengenai mitos itu, Sultan menerangkan, bahwa batu ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menanyakan nasib dengan cara mengilan (mengukur dengan jengkal) tangan. “Ini tentu ini salah kaprah dan tidak sesuai ajaran agama islam,” tutur Sultan. Oleh karena itu, untuk menghindari syirik muncul dari mitos itu, rencana batu-batu ini akan di pagar agar tidak dipakai mengilan. (Dhiar Ardhiansyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *