Musim Kemarau Berkah Bagi Pemilik Truk dan Pompa Air

oleh

air-740x357Cirebon – Musim kemarau panjang membuat sejumlah daerah mengalami kekeringan. Sumur warga pun selama beberapa pekan terakhir mengering sehingga mereka kesulitan mendapatkan air bersih, seperti yang terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Kaliwedi Kabupaten Cirebon.

Untuk mendapatkan air bersih warga di Desa Guwa Kidul dan Guwa Lor Kecamatan Kaliwedi Kabupaten Cirebon terpaksa harus membeli air untuk mengisi sumur mereka. “Sudah satu bulan lebih sumur kami mengering. Terpaksa kami harus beli karena untuk kebutuhan seperti mandi dan mencuci, sementara untuk memasak kami membeli air galon (mineral) ,” ujar Zaenudin, warga Guwa Kidul kepada jurnalcirebon.com, Minggu (2/8/2015).

Dalam kurung waktu sebulan ini, dia mengaku sudah empat kali membeli air untuk mengisi sumurnya yang mengering tersebut. Pengiriman air sendiri menggunakan truk bak yang dimodifikasi untuk mengangkut air. “Harga satu truk air Rp 150.000. Cukup untuk kebutuhan mandi dan mencuci selama satu minggu,” ujar Zaenudin.

Menurut dia, musim kemarau mengakibatkan air di sumur cepat habis karena menguap sehingga terpaksa harus terus menerus membeli. Dia tidak tahu sampai kapan harus terus membeli air untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari rumah tangganya. Dia pun meminta pemerintah agar menyalurkan bantuan air bersih di desanya. “Krisi air bersih membuat kami kesulitan. Kasihan warga yang nggak mampu membeli,” ujar dia.

Keluhan yang sama disampaikan Supriyono, warga Guwa Lor. Sumurnya yang sudah mengering selama lebih dari satu bulan membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk rumah tangganya. “Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya terpaksa harus membeli. Satu truk harganya Rp 150.000. Saya pernah ngisi dua truk langsung tapi hanya untuk bertahan sepuluh hari. Setelah itu terpaksa saya harus membeli lagi,” ujar Supriyono.

Dia pun meminta Bupati turun tangan langsung mengatasi krisis air bersih yang saat ini melanda desanya. “Kami memohon Pak Bupati agar turun ke bawah untuk melihat kondisi warganya yang menjerit akibat krisis air,” tegas dia.

Sementara itu, musim kemarau mendatangkan berkah tersendiri bagi pemili truk dan pompa air. Kondisi kekeringan yang terjadi pun dimanfaatkan para pemilik kendaraaan truk dan pompa air, untuk lahan bisnis.

Air yang disedot dari sumber di pinggir Sungai Kumpulkwista Desa Wargabinangun Kecamatan Kaliwedi tersebut kemudian dijual kepada warga. Air diangkut dengan truk yang diatasnya dilapisi terpal agar tidak bocor. Air kemudian disalurkan ke sumur-sumur warga yang mengalami kekeringan. Satu truk air umumnya dijual Rp150.000.

“Sehari kami bisa mengantar hingga 10 truk. Kebanyakan warga yang memesan dari Guwa Kidul dan Guwa Lor,” ujar Sanita, salah seorang pemilik truk.

Banyaknya warga yang memesan air untuk mengisi sumurnya membuat dirinya kewalahan. Bahkan, kata dia terkadang warga harus menunggu selama tiga hari untuk mendapatkan giliran pengisian sumur mereka. “Untuk mengisi truk kami harus mengantri. Kami juga membelinya dengan harga Rp60.000/truk,” ujar dia. (ibn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *