oleh

Saat Tahanan Siksa Sesama Tahanan di Mapolres, Tahanan Lain Tahlilan

SUMBER, (JCO) – Kasus meninggalnya tahanan Polres Cirebon, Arif Rahman (19 tahun) membuat pihak kepolisian langsung melakukan langkah penyelidikan. Dalam tempo yang cepat polisi berhasil mengungkap pelaku kasus pengeroyokan dan penganiayaan di dalam sel tahanan yang memakan korban jiwa tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun jurnalcirebon.com, Selasa (23/1/18) polisi telah menetapkan 21 tersangka penganiayaan terhadap dua tahanan, yakni Arif dan Fiqih. Akibat kejadian tersebut Arif meregang nyawa hingga akhirnya meninggal dunia. Sedangkan, Fiqih yang sempat kritis berhasil diselamatkan.

“Begitu mengetahui ada tahanan meninggal dunia, kami langsung melakukan penyelidikan dan sudah menetapkan 21 orang tersangka yang seluruhnya sudah kami kirim ke rutan,” ujar Kanit Jatanras Polres Cirebon, Iptu Riffy kepada jurnalcirebon.com.

Fiqih, tahanan yang lolos dari maut mengaku dirinya bersama almarhum Arif dianiaya secara sadis oleh sesama tahanan sejak masuk sel tengah malam. “Saya bersama almarhum Arif dianiaya sejak pertama masuk sel tahanan. Kami berdua disiksa dan menjadi bulan-bulanan tahanan lain selama hampir tiga jam,” ujar Fiqih yang mengaku kondisinya mulai membaik.

Dalam kondisi tubuh yang masih sakit karena mendapat siksaan sepanjang malam, Fiqih mengaku kembali harus menerima siksaan pada siang harinya. Dia bersama almarhum Arif disiksa dengan cara dipukul, ditendak bahkan diinjak-injak seperti binatang. “Siang hari kami disiksa lagi sampai sore. Kami tidak boleh menjerit. Kalau menjerit mereka memukul dan menyiksa kami lebih keras,” tutur Fiqih yang mengaku terpukul mengetahui Arif telah tiada.

Sementara itu, berdasarkan pantauan CCTV, Arif dan Andi mengalami penganiayaan sejak keduanya masuk tahanan yakni sekitar pukul 00.40 WIB. Kedua tahanan yang berjalan dengan cara jongkok tersebut mendapat pukulan demi pukulan dari para tahanan. Korban sempat diseret ke kamar mandi yang tak terpantau CCTV.

Di tempat inilah keduanya diduga mengalami penyiksaan dari sesama tahanan yang dilakukan secara bergiliran. Terungkap, saat dilakukan penyiksaan, tahanan lain membaca lafadz tahlil dan asamaul husna dengan keras. Tujuannya agar jeritan para korban tak terdengar saat penyiksaan.(amar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed